Taksi-taksi yang kian "reseh"
Assalaamu ‘alaikum,
Benarkah taksi di jiran ini gak lebih ramah dari taksi kita?
Semalam balik dari Jakarta, langsung naik taksi dari Changi. Ketika saya jawab mau ke Tanamerah, lokasi yang cuma 10 menit dari Changi, si Apek sang sopir taksi pun langsung merengut sambil menggerutu. Katanya, today, my luck is “very good”. Sudah 3 kali dapat giliran dari Changi, semuanya gak ada yang lebih jauh dari Tampines, alias semuanya cuma berjarak tempuh kurang dari 15 menit dari Changi. Bener-bener bad luck, lanjutnya. It made me feud up, katanya.
Untung aja saya dah setengah ngantuk, karena tiba di Changi sudah jam 2 malam. Biarin aje dia ngoceh kayak gitu, Emangnya Gue Pikirin. Geblek juga nih si Apek. Apa salah kalo saya dan orang-orang yang lain punya rumah di dekat Changi? Apakah orang yang tinggal di dekat Changi itu gak berhak naik taksi? Toh kan dia bisa balik lagi muter ke Changi setelah ngantar saya, misalnya. Walau begitu saya coba memaklumi, karena ngantri di Changi itu lama, dan tentunya bete, kalo ngantri lebih dari sejam tapi dapat duitnya cuma sedikit. Namun, bukankah itu juga tidak bisa menjadi alasan untuk mengeluh apalagi sampai mengumpat di depan customer.
Kadang saya baca di koran sini, beberapa pembaca mengeluhkan perkataan sopir taksi yang gak sopan. Bahkan dulu ada yang sempet ribut, karena diturunkan di tengah jalan oleh pak sopir, sebab tujuan akhir hanyalah 10 menit dari Changi. Sang penumpang pun meradang, dan sang sopir kena sangsi. Yang kasian, sopir lain yang baik-baik juga kena getahnya, karena peraturan terhadap sopir taksi diperketat.
Bagaimana dengan di Jakarta? Separah-parahnya taksi di Jakarta, kecuali taksi perampok, gak pernah ngomong yang gak enak gitu. Paling kadang mereka mengeluh penghasilan yang ngepas sebagai sopir taksi. Biasanya mereka selalu kerja 2-1, alias 2 hari kerja dan 1 hari istirahat. Kalo yang pakai sistem komisi, kadang cuma dapat komisi 60 ribu-an. Yang pakai sistem setoran, bisa nyisa 100 ribu-an, tapi kalau lagi apes, malah nombok. Tips dari tamu lah yang diharapkan bisa nambah duit buat mereka. Tapi kalo sang tamu pelit, hendak dikata apa? So, buat yang punya duit lebih, gak usah sungkan untuk ngasih tambahan tips barang 3-10 ribu. 3 ribu mungkin kecil buat kita, tapi sangat berarti buat mereka.
Hanya saja, yang kadang menjengkelkan, taksi suka “nolak” untuk mengantarkan kita, dengan alasan macetlah, mau langsung balik ke pangkalan dll. Atau kalaupun mau, mereka mintanya borongan, yang harganya bisa 2-3 kali lipat dari argo. Teman pun pernah kecele, dibilang tarif lama, di tengah jalan dari bandara, dimintai penyesuaian tarif. Kalau udah gini, mau gak mau, meskipun antri, si taksi biru yang tetap setia dinanti oleh para penumpang. Harga beda dikit gak jadi masalah, yang penting nyaman, aman dan service-nya bagus. Konsep sederhana, yang sayangnya gak dihayati oleh perusahaan taksi lainnya. Wajarlah kalau si taksi biru itu kini mampu merajai jalan-jalan di Jakarta, bahkan sudah merambah ke kota lain.
Naik taksi memang kadang jadi last choice, kalau kita dari bandara ataupun kalo gak punya mobil sedang barang bawaan banyak. Kalau di sini sebagian sopir taksi gak ramah, di Jakarta sebagian taksi gak keurus, mulai dari fisiknya yang amburadul, sampai yang mintanya borongan. Kalau di jiran kita, sang sopir umumnya adalah apek-apek yang udah pensiun, ataupun kena PHK, ataupun tuk mengisi waktu luang, tapi di Jakarta, taksi malah menjadi pekerjaan utama, alias hidup-mati, dan ngepul gaknya asap dapur tergantung dari situ. Kasian juga, apalagi di tengah harga-harga di Jakarta yang terus melambung kian hari. Semoga para pak sopir itu, baik di jiran ini maupun di Jakarta, tetaplah bisa ramah dan tersenyum, meski penghasilan mereka begitu ngepas. Memang sulit rasanya buat senyum kalau lapar melilit perut. Buat kita pengguna taksi, barangkali kita sudi melebihkan uang bayaran kita, apalagi kalau sang sopir ramah.
Hanya sebuah opini.
Wassalaam,
Papa Fariz aka Mas Boedoet
Wah, mas..
Sebusuk-busuknya taksi di negeri kita, lebih parah pelayanan taksi di negeri tetangga emang. Pokoknya masalah service untuk umum, terutama restoran, negara kita masih nyaman.
Doli Anggia Harahap - 27 Juli 2008 pukul 13:05 |