Papa Fariz
Kumpulan Tulisan Papa Fariz

Sep
28

Assalaamu ‘alaikum,

Gak salah Pak SBY itu dapat gelar S3, that’s why untuk kasus KPK, alih-alih mengeluarkan Perpu penunjukkan langsung, beliau malah menunjukkan Tim 5, yang nantinya akan jadi tameng beliau apabila dihujat masyarakat. Inilah persepsi awal saya, yang mungkin juga dimiliki oleh masyarakat umum, tentang taktik licin incumbent leader kita menghindari kontroversi Polri vs KPK? Benarkah demikian? Ternyata persepsi itu salah. Justru sebenarnya, Pak SBY lewat stafnya, yakni Hatta Rajasa, Widodo AS dan Andi Matalatta telah mempersipkan Perpu penunujukkan Plt pimpinan KPK yang segera diikuti dengan Keppres penunjukan langsung yang akan diumumkan sebelum beliau bertolak ke AS. Kalau tidak karena Pak Adnan Buyung Nasution "ngamuk-ngamuk" tentang Perpu penunjukkan langsung itu, tentulah semuanya berjalan sesuai rencana awal. Bang Buyung memang pantas ngamuk. Terbitnya Perpu saja sudah menuai kontroversi, apalagi adanya penunjukkan langsung. Ini bakal menjadi blunder politik Pak SBY. Dengan keluarnya Perpu tentang Tim 5 yang menyerahkan mandat penuh kepada Tim 5, Pak SBY justru "diuntungkan", karena dengan demikian, beliau bisa menjadikan Tim 5 sebagai tameng. Kalau masyarakat protes, beliau nanti bisa saja berkilah, lha itu kan pilihan Tim 5, dan saya cuma ACC saja kok.

Kekisruhan Cicak vs Buaya memang makin kusut dan membingungkan. Yang jelas pada intinya, siapa pun yang menang, maka yang akan tampak adalah "kebrengsekan" lembaga di negeri kita. Kok bisa begitu? Kalau ternyata Cicak yang salah alias pimpinan KPK memang menerima uang dan jual perkara, apa kata dunia nanti. Pimpinan lembaga anti korupsi kok malah KKN, lantas siapa lagi yang bisa dipercaya, dan bayaran termahalnya adalah hilangnya Trusthy dari masyarakat. Tapi kalau yang salah adalah Buaya, kita bakal prihatin dan kecewa abis, kok Polri kita bisa-bisanya bekerja gak profesional dan bikin rekayasa murahan sekelas sinetron gak mutu itu? Kenapa mereka cuma pandai menangkap teroris, tapi tidak pandai menebang para koruptor? Kalau pengayom masyarakat dan pelindung Kamtibmas saja sudah amburadul kerjanya, jangan pernah berharap kerja mereka secara keseluruhan, terutama dalam memberantas KKN adalah bagus. KKN itu kanker dari kehidupan masyarakat, yang sama bahayanya atau bahkan lebih bahaya daripada terorisme. Aparatnya saja sudah kayak gitu, apa yang bisa diharapkan. Kira-kira yang mana yang bakal jadi ending perseteruan ini?

Bagi masyarakat, nampaknya mayoritas, untuk saat ini, opini yang terbentuk adalah berpihak kepada KPK. Penetapan status tersangka oleh Polri memang terkesan mengada-ada dan penuh rekayasa. Sampai-sampai Pak Bibit Waluyo, salah satu pimpinan KPK pun mengeluhkan hal itu. Awalnya, pimpinan KPK hendak ditahan dengan dasar testimoni dari Pak AA, mantan Ketua mereka. Karena kurang kuat, lantas diubah lagi dengan tudingan menerima uang suap 5,1 milyar dari Anggoro Wijaya, terdakwa kasus korupsi yang juga Dirut PT Masaro, yang kini ngumpet di Singapore. Karena gagal lagi, maka tuduhan pun menjadi penyalahgunaan wewenang dalam pencekalan Anggoro dan juga pencabutan cekal Joko Candra. Bingung yah, tuduhan kok berubah-ubah, kayak arah angin saja, yang gak tentu bergantung pada musim. Bahkan Kapolri BHD pun sempat mengumumkan bahwa Anggoro tetap dicekal karena Chandra Hamzah belum kebagian duit 1 milyar. Di TV tadi pagi, Pak Chandra bersumpah Demi Allah bahwa beliau tidak pernah terima uang apa pun dan KPK bukan tempat cari duit. Polisi pun memaparkan bahwa duit 1 milyar itu diserahkan oleh Ary Mulyadi, brokernya Anggoro, ke Pak Chandra di suatu tempat. Tapi pengakuan ini akhirnya dicabut oleh Ary Mulyadi. Pak Chandra sendiri berhasil menunjukkan bukti bahwa pada hari tersebut beliau sedang rapat internal di KPK, dan ada bukti dokumennya. Pak Bibit saat itu sedang di Peru, dan ada buktinya pula. Kira-kira apa kata polisi tentang bantahan itu dan apa skenario selanjutnya?

Yang sebenarnya gak kalah lucu, setelah celetukan Cicak vs Buaya oleh Pak Kabareskrim Susno Duaji, adalah keluarnya Keppres tentang pemberhentian pimpinan KPK Pak Chandra dan Pak Bibit hanya kurang dari seminggu setelah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polisi. padahal Keppres untuk Pak AA saja dahulu perlu waktu yang cukup lama (CMIIW), tapi kenapa kali ini Keppres itu keluar begitu tergesa-gesa? Apalagi kini ada pihak yang mempraperadilankan hal itu. Kewenangan KPK untuk mencekal sudah diatur dalam UU, dan sudah dilaksanakan sejak lama, lantas kenapa baru kali ini dimasalahkan? Kalaupun pimpinan KPK melanggar kewenangan itu, menurut sebagian pakar hukum, hal itu tidak bisa dianggap sebagai kriminal, dan cukup di PTUN-kan saja sebagai pelanggaran administrasi. Lucunya lagi awal pemanggilan pimpinan KPK adalah karena surat permohonan dari Anggoro, sang koruptor mabur dengan alasan dia telah dizhalimi karena dicekal. Kenapa Pak Polisi justru gak berupaya menangkap Anggoro terlebih dahulu. Keluarnya Keppres pemberhentian sementara Pak Chandra dan Pak Bibit secara tidak langsung adalah simbol bahwa incumbent president membenarkan tindakan Pak Polisi. So secara tidak langsung, tindak Pak Polisi telah direstui dan diakui oleh Pak Presiden kita. Nah lho.

Pengeluaran Perpu tentang penunjukan Tim 5 pada akhirnya bisa dibilang sukses untuk membelokkan opini awal apakah pimpinan KPK itu bersalah atau tidak dan perlu ditetapkan sebagai tersangka atau tidak. Kini mau tak mau Perpu tersebut menggiring pemikiran kita untuk berkutat pada siapa yang pantas ditunjuk oleh Tim 5. Itu sama artinya, secara tidak langsung, kita semua pun terpaksa dan dipaksa setuju untuk membenarkan tindakan yang dilakukan oleh Pak Polisi. Ini berkah buat Pak Polisi, sekali tepuk, 2-3 lalat langsung kena.KPK sendiri, yang sebelumnya diisukan seluruh pimpinannya akan mengundurkan diri, telah mempersiapkan pertahana internal. Kalau pimpinan mereka tinggal 2, maka mereka sudah mempersiapkan 2 penasihat, Sekjen dan 5 Deputi mereka untuk menggantikan 3 pimpinan yang hilang. Tapi rencana ini buyar seiring dengan terbitnya Perpu Plt. Kata Pak M. Jasin, yah, mau apalagi, kita kan gak mungkin membuat keputusan yang menandingi Perpu. Tentang Perpu sendiri, logika Pak SBY mungkin benar, bahwa dengan 2 orang pimpinan, KPK tak mungkin bisa bekerja. Tapi apakah memang situasi negeri kita sudah segawat itu maka perlu dikeluarkan Perpu? Perpu biasanya dikeluarkan dalam keadaan darurat atau situasi genting yang memaksa. Apakah memang saat ini situasi kita sudah sampai ke taraf tersebut. Nah tambah lieur kan.

Kerumitan kasus KPK vs Polri, belum berakhir sampai di sini. Gak sedikit orang yang mengaitkan dengan kasus Bank Century, dan yakin di situlah hulunya. Bank ini ditalangi oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR sebesar 1,3 trilyun rupiah. Namun dalam prakteknya, dana talangan membengkak menjadi 6,7 trilyun rupiah. Kok bisa begitu? Menkeu berkilah, keputusan bail out adalah hasil dari investigasi BI yang saat itu dikomandani oleh Pak Boediono, Cawapres terpilih. Pak Boed beralasan bahwa Century perlu ditalangi untuk mencegah rush dan hilangnya trusthy di saat krisis ekonomi. Tapi pihak yang kontra mencibirnya dengan mengatakan bahwa Bank Century adalah bank yang gagal dan sudah lama kinerjanya bobrok. Kenapa mereka malah menjadi golden boys untuk diselamatkan dan bukan dari dulu dieliminasi? Ada apa ini? Spekulasi pun merebak, apalagi Pak Susno yang Kabareskrim tertangkap basah disadap oleh KPK, dan katanya sedang "nodong" di kasus ini sebesar 10 milyar. Spekulasi pun merebak bahwa ini adalah tindakan balas dendam polisi terhadap KPK, sebelum mereka keduluan di"grebek". Ada lagi yang berspekulasi bahwa semua ini adalah untuk menahan agar kasus Bank Century tidak terbang menyundul langit atas. Lieur euiyy.

KPK juga bukan malaikat. Kalau memang bersalah, sudah sepantasnya ditindak, dan tidak ada seorangpun yang kebal hukum, apalagi di hadapan-Nya di Hari Akhir nanti. Hanya saja, perlu ada kejelasan apa yang dituduhkan beserta bukti-bukti yang jelas. Jadi masyarakat tau apa yang sedang terjadi. Gak seperti sekarang, masak sih tuduhan berubah-ubah kayak gitu, dan keliatan sekali skenario penuh rekayasa, tapi kurang matang. Ketika mentok di sini, lalu lari ke sana. Kalau mentok lagi, cari jalan lagi. Siapa pun yang salah, kita akan lihat nanti seiring berjalannya waktu. Tapi ingat, di dunia fana ini belum tentu yang namanya kebenaran yang akan tertawa paling akhir. Apa pun jadinya, saya pribadi berpegang pada prinsip simpel, "Untuk Menutupi Suatu Kebohongan Maka Kita Harus Berbohong Lagi, Terus dan Terus". Lihat saja nanti, siapa di antara kedua pihak, yakni cicak dan buaya, yang pada akhirnya ketauan bohong. Orang yang bersih dan jujur, akan sulit untuk berbohong, karena selain takut kepada Allah SWT, hati kecilnya juga akan berontak. Gak tau yah kalau memang dari sananya sudah busuk dan jahat, boleh jadi hati nuraninya gak akan proters dan dia juga menafikan keberadaan Sang Khalik. Then, pastilah pihak yang berbohong akan kerepotan untuk berbohong lagi agar rekayasanya keliatan bagus dan sempurna. Tapi sayang, at the end barang busuk akan tercium pula baunya. Selain berencana menikmati perseteruan ini, saya pun bersiap-siap untuk tertawa lagi. Ya, tertawa melihat si pembohong kerepotan bikin bualan barunya. Boleh jadi kisah bualan itu lebih lucu dari Opera Van Java-nya si Parto cs. Let’s see dah, meski lieur tapi menarik dan menggelikan.

Wassalaam,
Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Iklan
Sep
16

Assalaamu ‘alaikum,

Suatu ketika, Pak Driver yang biasa mengantar saya di Jakarta, "mengeluh" kepada saya sekaligus bangga. Mengeluh karena tamu-tamunya yang datang dari daerah, dan kebanyakan para pejabat dinas depertemen tertentu, kini mulai jarang datang. Otomatis, pemasukan dia juga berkurang dan dia pun terpaksa banting stir nyambi jadi sopir taksi eksekutif. Kenapa mereka pada jarang datang? Jawabnya singkat, para tamu itu kini hati-hati dalam melakukan perjalanan dinas. Mereka tiarap, karena keberadaan KPK yang menunjukkan taringnya, merasuk sampai ke daerah-daerah. Paling gak, langkah KPK saat itu cukup menggetarkan nyali para pejabat daerah, yang datang ke Jakarta sambil tipu-tipu dikit SPJ (Surat Perjalanan Dinas), minta di lobby para supplier sambil menggandeng cewek-cewek di Mabes (Mangga Besar). Tentunya mereka punya deal timbal balik dengan para supplier itu, yakni dia dapat duit, dan supplier dapat proyek. Ganasnya KPK, cukup menyiutkan nyali para begundal itu. Imbasnya ya ke Pak Driver, meski begitu dia tetap bangga. Katanya rejeki sudah diatur oleh Allah SWT, dan dia senang bahwa KKN yang mengeliminasi rasa keadilan itu, bisa terkikis di bumi pertiwi. Secara gak langsung, dia ikhlas sekalipun rejekinya terpotong karena kinerja KPK.

Tapi kini KPK kerjanya mulai terusik. Komisi-komisian seperti KPK sebenarnya tidak diperlukan andaikan para penegak hukum yang telah ada di sistem kenegaraan tidak mandul serta optimal dalam menjalankan tugasnya. Mereka adalah polisi, sebagai penyidik dan penyelidik, lalu kejaksaan sebagai penuntut. Karena pemberantasan korupsi tidak juga tuntas oleh kedua lembaga ini, akhirnya dibentuklah KPK, karena KKN di negeri kita sudah masuk ke tahap kronis sebagai suatu kejahatan luar biasa yang harus diselesaikan secara luar biasa pula. Namun kini, sedikit demi sedikit, fungsi KPK mulai digerogoti, dan entah kenapa terlihat terjadi secara SISTEMATIS dan timing gencarnya adalah setelah USAI Pemilu dan Pilpres di negeri tercinta. Wajar saja andaikan ada pihak yang menuduh bahwa semua ini ada master mind-nya, ada teori konspirasinya dll. Entah benar atau tidak, Wallahu ‘alam bissawab, namanya juga teori, yang bisa benar dan bisa salah. Bahkan, besan Presiden yang ikut dipenjarakan KPK, saat sidang di pengadilan sempat menuduh adanya muatan politis dalam penjeblosan dirinya ke penjara. Katanya, pemenjaraan dirinya tak lebih dari upaya politis semata untuk meningkatkan citra pihak tertentu agar terlihat berjasa dalam memberantas korupsi. Benarkah begitu? Silahkan dilihat sendiri.

KPK mulai digoyang semenjak ditangkapnya Pak AA, sang Ketua, karena kasus pembunuhan dengan dugaan latar belakang asmara. Pak AA lengser dari jabatan ketua, dan kini menjalani sidang pengadilan untuk membuktikan kebenaran tuduhan tersebut. Lagi-lagi, ada teori konspirasi yang berkembang bahwa ini upaya penghancuran KPK yang dini. KPK mulai disebut lagi namanya saat tiba-tiba Pak SBY bilang bahwa kekuasaan KPK bukan tak trbatas dan harus bertanggung jawab kepada Allah SWT. Nah hal ini langsung disambar oleh media massa sebagai sinyal tentang gerahnya incumbent president. Bukan apa-apa, besan beliau sendiri kena tangkap KPK juga. Gak ada angin dan gak ada hujan, tiba-tiba besok harinya Ketua BPKP menyatakan akan meng-audit KPK. Katanya atas perintah seseorang, yang lantas dibantah pula keberadaan perintah tersebut. Kok waktunya kebetulan sih? Hampir saja rumor penyoalan fungsi KPK menjadi blunder salah satu Capres. Hilang senyap, selain kasus Pak AA, KPK pun namanya mencuat lagi, yakni dalam kasus Bank Century, dimana mereka secara tidak sengaja menyadap pembicaraan telpon Kabareskrim, Pak SD, yang sedang menodong 10 milyar ke pihak terkait kasus itu. Nah di sini kasus mulai meledak.

Pak SD ngamuk dengan mengeluarkan statemen Cicak kok berani melawan Buaya? Polisi pun gak mau kalah, lantas mereka menyatakan menemukan bukti rekaman Pak AA dengan Anggoro Wijaya di Singapore, yang menyatakan bahwa AW telah menyuap pimpinan KPK sebesar 6 milyar. Benarkah pernyataan AW itu? Pertemuan Pak AA dengan AW sendiri telah melanggar kode etik KPK, dimana pimpinan KPK tidak boleh bertemu atau melobby tersangka korupsi. Testimoni Pak AA tentang hal itu, selain bukti rekaman, yang dijadikan senjata oleh polisi untuk memeriksa pimpinan KPK. Apakah benar suap itu larinya ke pimpinan KPK selain Pak AA? Ini masih belum jelas. Apakah dugaan suap itu yang menjadi alasan Polisi menetapkan pimpinan KPK sebagai tersangka. Ternyata bukan. Lalu apa tuduhan Polisi? Oh My God, tuduhannya cuma tentang penyalahgunaan wewenang, bahwa KPK telah mengeluarkan cekal untuk para koruptor, yakni Joko Candra dan Anggoro Wijaya. Padahal pencekalan itu sudah diatur oleh UU, yang disetujui oleh DPR dan dikuatkan oleh MA dan MK. Mengapa menggunakan wewenang malah dikriminalisasi? Aduhh biyungg, yang hebat, ibaratnya Polisi bertindak sebagai pahlawan dalam membela Hak Asasi kedua koruptor tersebut dengan menuduh KPK menzhalimi kedua begundal itu? Hal gak penting, apalagi demi koruptor, apa kata dunia?

Yang lucu, sebelum penetapan pimpinan KPK sebagai tersangka, Pak SD yang gerah karena dikabarkan mau diperiksa KPK, dan boleh jadi dicokok karena kasus Bank Century, mengirimkan email yang kini tersebar ke berbagai milis. Orang yang berinisial SD di email itu ternyata sakit hati, selain karena dirinya dituduh ada apa-apa di kasus Bank Century, dia gak bisa terima bahwa KPK mengganggu keluarga Polri. Pak Suyitno Landung telah dijebloskan ke penjara. Lalu berikutnya giliran Pak Rusdiharjo, mantan Kapolri, yang dipenjarakan. Kini istri dari mantan Wakapolri, Adang Darajatun pun tengah diperiksa untuk kasus KKN. Nah lho, kalau emang salah, kenapa kebakaran jenggot sih? Apakah karena dari keluarga Polisi, lantas kebal hukum? Anehnya lagi, di saat yang bersamaan, DPR, yang beberapa anggotanya juga dijebloskan KPK, bersama Pemerintah sedang berupaya menggolkan UU Tipokor yang dirumuskan akan mereduksi jauh peran KPK. Kejagung pun terang-terangan meminta agar kewenangan penuntutan dikembalika ke Kejagung, padahal masyarakat udah gak pecaya lagi dengan Kejagung, karena banyak oknum-oknumnya yang bobrok. Kejagung sempat dipermalukan oleh KPK, dengan ditangkapnya Jaksa Urip TG. Pas banget deh, Polisi ketemu teman sakit hati, yakni Kejagung dan DPR, dan kebetulan mereka punya authority merumuskan UU. Klop banget-banget, ya udah kita keroyok aja rame-rame.

KPK memang bukan malaikat. Kalau memang pimpinannya ada yang bersalah, tentulah masyarakat senang apabilan oknum pimpinan itu dihukum. KPK harus tetap ada, kalau person-nya, kan bisa ganti-ganti siapa aja. Jadi kalau memang bersalah, ya gak masalah untuk dihukum. Cuma ya itu, tuduhan Polisi ke pimpinan KPK kali ini terkesan mengada-ada, remeh temeh dan terlihat justru membela koruptor. Dan timing-nya pas banget-banget dengan usainya Pemilu dan Pilpres, plus banyak pihak yang gerah dengan keberadaan KPK. Timing yang pas, dan terlalu banyak kejadian yang kebetulan. Kebetulan yang berulang tentulah bukanlah suatu kebetulan, melainkan patut diduga sebagai suatu perencanaan sistematis. Barangkali ada yang beranggapan begitu. Kini orang pun mencibir sang incumbent president sekaligus presiden terpilih. Mengapa dulu sewaktu kampanye mengangkat kinerja dan kiprah KPK sebagai tema kampanye-nya, tapi kok kini diam membisu dan seakan membiarkan saja. Tentu saja ada orang yang beranggapan bahwa beliau cuma memperalat KPK saja, dan setelah terpilih, EGP deh, gantian gue bales lo, karena besan gue lo colek-colek juga. Yang pasti Bapak yang terkesan suka bingung ini, memang sedang bingung. Kalo komenar nanti dikira intervensi dan blunder, kalau gak komentar dikira membiarkan dan senang KPK dibredel. Nah lho, yang dari sananya bingung makin tambah bingung.

Setelah game over-nya Pak Antasari Azhar karena kasus pembunuhan, kini Pak Bibit Samad Rianto dan Pak Chandra Hamzah ditangkap karena tuduhan penyalahgunaan wewenang pencekalan, tinggal tersisa Pak Mohammad Jasin dan Pak Haryono Umar. Skenario berikutnya adalah Pak M. Jasin yang diincar dengan tudingan menerima suap kasus PT Masaro berdasarkan testimoni Pak AA. Kalau sudah begini tinggallah Pak Haryono Umar. Mana mungkin kerjaan 5 orang harus dibebankan ke 1 orang saja. Itu sama artinya KPK sudah gak berfungsi lagi secara efektif dan bubar ajlan dengan sendirinya. Sewaktu pimpinan KPK tinggal 4 orang saja, ada oknum di DPR yang nafsu menuntut agar keputusan KPK tidak dianggap karena KPK seharusnya punya 5 orang pimpinan, dan bukan 4 ornag, nah ini dianggap menyalahi UU. Syukurlah polemik gak penting itu hilang dengan sendirinya. Kalau pimpinan KPK kini tinggal 2 orang saja, bahkan mungkin hanya bersisa 1, tentulah pihak yang sudah lama mengincar pemberangusan KPK akan semakin semangat. Dari 5 tinggal 2, masak yang 2 ini gak bisa dieliminasi. Kira-kira gimana kelanjutan cerita KPK ini? Apakah memang KKN sudah merupakan dosa turunan buat kita dan menjadi budaya yang perlu dan patut dilestarikan? Korupsi memang sudah luar biasa terjadi dan merasuk hampir ke semua lapisan amsyarakat dan lini kehidupan. Alih-alih lembaga pemberantasannya dikuatkan, kini malah terkesan dieliminasi. Kalau memang oknum pimpinan KPK bersalah, okelah dihukum karena mereka bukan malaikat, tapi kudu dibuktikan dulu. Cuma gak seharusnya lembaganya juga tutur diincar untuk diremukkan. Kalau mau memberantas korupsi saja hidupnya terancam, siapa lagi yang mau duduk di situ?

Wassalaam,
Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Jul
16

Assalaamu ‘alaikum,

Pilpres baru saja usai, dan hasilnya sudah diketahui, meski masih harus menunggu pengumuman resmi KPU serta masih terus direcoki oleh pihak yang kalah. Dari hal yang tersisa usai Pilpres ini, ada satu hal yang mengundang keprihatinan, apabila memang hendak dicermati. Hasil Pilpres adalah sudah diprediksi, dan bisa dibilang tidak mengejutkan, namun mengejutkan. Yang tidak mengejutkan adalah kemenangan SBY Berbudi dengan torehan suara sekitar 60% serta kepastian Pilpres 1 Putaran. Hal yang mengejutkan adalah, bagaimana mungkin pasangan JK Win ternyata hanya memperoleh suara sekitar 13% saja, dan ini masih jauh di bawah Mega Pro yang memperoleh 27%, apalagi dibandingkan dengan SBY Berbudi.

Padahal kampanye JK begitu massive, ditambah dengan penampilan sang capres yang lumayan di Debat Capres. Sepertinya banyak kaum intelek muda yang tergiur dengan pasangan ini. Tapi apa hasil sebenarnya? Adakah mereka digembosi dari dalam oleh mesin partainya sendiri. Ataukah orang kita cuma bilang tertarik tapi ketika mencontreng lain lagi pikirannya. Konon di Jakarta yang jadi barometer Pilpres nasional karena keragaman masyarakat serta tingginya tingkat pendidikannya, 70% pemilih ternyata memilih SBY Berbudi, lho lho.

Hal yang menyedihkan bukanlah tentang penggembosan oleh Golkar sendiri, melainkan tentang sia-sia dan tak dianggapnya dukungan dari para tokoh agama, oleh masyarakat. Sejujurnya, JK memang jauh lebih hijau daripada Pak SBY. JK itu hijaunya adalah hijau kereng. Bapaknya adalah seorang tokoh NU garis keras di Makassar, sedangkan ibunya adalah tokoh Aisyiyah, alais wanita-nya Muhammadiyah. Istri JK pun seorang Muhammadiyah yang taat. JK sendiri pernah mengenyam pendidikan di sekolah khusus agama yang setara dengan SMA, karena Bapaknya pernah menginginkannya menjadi seorang Mubaligh.

Secara "Syariat" JK jauh lebih hijau daripada calon manapun. Karena itu, ramailah ormas-ormas Islam, yang mungkin "hanya memandang" sosok personal JK, tanpa melihat hal pragmatis ataupun gerbong JK, mendukung pasangan JK Win. Ketum Muhammadiyah, Din Syamsudin, yang katanya punya anggota 28 juta jiwa, lalu Ketum PBNU Hasyim Muzadi, yang punya anggota lebih dari 30 juta jiwa, secara terang-terangan mendukung JK. MUI pun, meski tidka secara eskplisit mendukung JK, tapi dari gerak-gerik plus ucapan Pak Amidhan, yang salah satu ketuanya, kentara sekali bahwa mereka condong ke JK Win.

Belum cukup di situ, FUI (Forum Umat Islam) secara terang-terangan memasang iklan di Republika tentang dukungan mereka ke JK Win. Ormas lainnya, seperti HMI, Al Jam-iyah Al Washliyah, BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim), Al Ittihadiyah, PUI (Persatuan Umat Islam) dll ramai-ramai mendeklarasikan dukungannya ke Pak JK. Tak kurang, mantan Ketum Muhammadiyah, yakni Buya Syafi’i Ma’arif, ikut-ikutan berkampanye untuk JK. Kyai Langitan pun, seperti KH Abdullah Faqih dll, juga menyatakan mendukung JK. Hampir semua Ormas Islam mendukung JK. Bebreda dengan para Ormas Islam, Parpol Islam dan berbasis massa Islam, yakni PKS, PAN, PPP dan PKB lebih memilih berdiri di belakang Pak SBY.

I’m sure, mereka yakin Pak JK lebih religius secara "Syariat". Tapi lain lagi secara "Hakikat". Maksudnya di sini, Pak SBY jauh lebih berpeluang menang, jadi mereka kudu realistis saja. Toh, selama ini, pak SBY juga terlihat konsisten, sehingga secara Hakikat, nilainya tidak berbeda jauh dengan Pak JK. KKN pun banyak pula dihabisi di zaman Pak SBY. Jadi secara Hakikat, Pak SBY gak kalah, bahkan mungkin lebih bagus. Secara Syariat Pak JK yang unggul. Namun untuk realistisnya yang lebih mungkin terpilih adalah Pak SBY. karena politik pada akhirnya berujung ke kekuasaan, dan akan lebih mudah memberikan sumbangsih andaikan kita berada di Pemerintahan, selain karena urusan bagi-bagi kue kekuasaan, akhirnya para Parpol Islam menjatuhkan pilihan pada Pak SBY.

Meski ramai-ramai hampir semua Ormas Islam mendukung Pak JK, hasil Pilpres kemarin benar-benar di luar dugaan, karena pasangan JK Win remuk redam dan cuma meraih 13% suara saja. Kemana suara-suara ormas Islam itu? Apakah artinya kekalahan yang begitu telak ini? Apakah ini juga merupakan pertanda bahwa kini tokoh-tokoh agama kini tidak lagi dirujuk ucapannya oleh masyarakat banyak? Apakah ini juga pertanda bahwa masyarakat kita cenderung bertambah sekuler? Apakah ini juga merupakan pesan kepada para tokoh agama agar gak usah lagi ikut-ikutan berpolitik praktis? Apakah ini juga berarti bahwa masyarakat gak mau lagi diatur-atur oleh para tokoh-tokoh agama. Kemana suara dan kekuatan para tokoh agama tersebut? Ada apa dengan mereka dan masyarakat sehingga apa yang mereka sampaikan tidak diindahkan oleh masyarakat? Ataukah ini hanya merupakan justifikasi bahwa di dunia politik, yang lebih penting adalah Parpol Islam dan bukan Ormas Islam?

Apa yah kira-kira menurut anda yang bisa anda baca dari fenomena ini? Lain orang mungkin lain pendapat. Lain sudut pandang, lain pula analisanya. Apa pun jadinya, kenyataan tidak berartinya dukungan para tokoh-tokoh Islam dan para ormas Islam, adalah suatu fenomena yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Ini boleh juga dibaca bahwa masyarakat kita lebih melihat figur. Figur Pak SBY gak terlalu agamis, tapi cukup baik dan berbudi, serta bisa dijadikan panutan secara duniawi. Memang, seorang pemimpin itu bukan cuma dibutuhkan leadershipnya saja, melainkan juga keteladanannya. Boleh jadi masyarakat kita tidak menemukan seorang tokoh agama masa kini yang bisa diterima dan diteladani oleh mereka secara umum. Amien Rais mungkin dianggap terlalu radikal. Gus Dur dianggap terlalu neko-neko. Din Syamsudin dan Hasyim Muzadi boelh jadi dianggap terlalu pragmatis. Aa’ Gym yang sempat digandrungi sebagai dai panutan, tapi dianggap hilang keteladanannya saat memutuskan poligami. Zainudin MZ pun game over karena dianggap sebagai kutu loncat dan juga bermewah-mewahan.

Dukungan masyarakat kepada Parpol Islam pun mengecil. Dalam Pemilu tahun 1999, suara Parpol Islam dan berbasis massa Islam adalah 34%. 5 tahun lalu suara Parpol Islam menanjak ke level 38%. Tapi pada Pemilu tahun ini, suara mereka anjlok menjadi hanya 25% saja. Apakah memang ini pertanda bahwa bangsa kita makin sekuler saja? Atau dalam artian, bangsa kita lebih enjoy dipimpin oleh pemerintahan yang sekuler, tapi pemerintahan tersebut dianggap baik, dan tidak korup. Jadi mereka lebih menilai Hakikat-nya dan bukan Syariatnya. Boleh jadi ada yang beranggapan daripada keliatan baik dan menjalankan syariat, tapi ternyata nyolong, ngebom dan selingkuh, lebih baik mereka yang biasa-biasa saja secara syariat, tapi punya sifat yang berbudi luhur.

Inilah yang "dikeluhkan" oleh salah satu ustadz yang saya kenal. Karena tidak adanya keteladanan dari mereka yang hijau kereng, serta ternyata akhir-akhir ini banyak tokoh dari parpol Islam yang tertangkap KKN dan selingkuh dll, masyarakat pun menilai, gak ada bedanya kelakuan mereka dengan orang-orang sekuler. Jadi buat apa Syariat, dan yang penting Hakikat, mungkin begitu pikir mereka. Apa pun jadinya Syariat tetaplah penting. Contoh simpelnya, kalaupun kita baik banget, tapi gak sholat 5 waktu, tetap saja sama juga bodong, bukan? Tetap saja dianggap berdosa, karena perintahnya sudah jelas menjalankan syariat pula, dan bukan cuma hakikat. Maaf jadi melebar kemana-mana, dan urusan dosa itu urusan Allah SWT. Balik lagi ke hal Syariat-Hakikat urusan duniawi, agaknya orang kita lebih merasa nyaman dengan yang Hakikatnya baik. Kalau Syariatnya terlalu ketat, gak enjoy dong, nanti ini itu dilarang, apa-apa jadi gak boleh.

Semoga hasil Pilpres dan Pemilu di tahun 2009 ini tidak diabaikan apalagi dilupakan begitu saja. Barangkali, para tokoh Islam bisa mengambil hikmah serta mengevaluasi peran dan kinerja mereka terhadap umat. Mengapa sampai suara mereka tak didengar? Mengapa masyarakat mengabaikan mereka? Dimana salahnya mereka serta apanya yang salah? Mungkin hal itu perlu ditelaah lebih jauh. Boleh jadi pula, masyarakat ingin bebas dan gak mau diatur-atur, apalagi oleh para petinggi agama. Ada orang yang acuh dengan fenomena ini, ada yang menganggapnya biasa-biasa saja dan temporer, tapi ada pula yang memprihatinkannya. Saya sendiri gak tau, lebih banyak yang mana dari kita ini.

Hanya saja, sekali lagi, IMHO, menyedihkan sekali apabila fenomena hasil Pilpres lalu merupakan suatu realita bahwa tokoh-tokoh agama mulai diabaikan, masyarakat kehilangan tokoh panutan dan keteladanan dari kalangan ulama, serta masyarakat kita cenderung menjadi sekuler. Itulah adanya. Silahkan dibaca dan dianalisa oleh diri kita sendiri. Penting atau gak pentingnya, berpulang lagi ke diri kita juga. Hmm, kapan yah kira-kira tokoh sekelas Buya Hamka bakal muncul lagi di jagat kehidupan negeri kita ini? Tokoh yang bukan cuma didengar apa yang diucapkannya melainkan juga diteladani tindak-tanduknya. Pastilah masyarakat luas merindukan sosok yang bisa mereka teladani secara langsung. Mereka tau, teladan satu-satunya adalah Rasulullah SAW. Tapi mereka juga ingin melihat sosok yang mengamalkan ajaran Rasulullah SAW yang bisa mereka lihat langsung. Jangan berbicara syariat dulu, kalau memang pihak yang memprioritaskan syariat bisa menunjukkan keunggulannya.

Wassalaam,
Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Jul
02

Assalaamu ‘alaikum,

Ba’da Maghrib di rumah, kini saya punya "tontonan baru" yang menarik. Kebetulan di sini hanya ada 2 stasiun TV nasional yang tertangkap, yakni RCTI dan SCTV saja. Karena saya gak suka dan paling anti dengan yang namanya sinetron (kecuali dulu sinetron AADC, he he), saya lebih suka pilih program lain. Kini ada satu yang baru dan menyenangkan, meski saya cuma menikmati kurang dari separuh akhir saja. Apakah itu? Itu adalah program acara Metal di SCTV,. Acara ini adalah acara musik yang dicampur dengan variety show. Oke lah, karena yang namanya musik itu umumnya enak didengar, dan hitung-hitung bisa update hobby saya tentang jagat permusikan di nusantara. Tapi ada satu hal yang bikin saya kecewa, miris, sedih dan prihatin.

Ternyata acara Metal di SCTV ini adalah Live Show yang dimulai sejak pukul 17.30 setiap harinya. Live mulai jam 17.30? Sebelumnya di RCTI, saya juga menemukan promosi acara The Master Junior, yang juga merupakan Live Show dari pukul 17.30. Masya Allah, bukankah jam 18.00 ini adalah waktu Maghrib di sana? Kalau acara ini dimulai pada jam 17.30, dan berakhir pada pukul 19.00, apakah ini tidak berarti dengan sangat sengaja, pihak produser, stasiun Tv dan semua pendukung acara ini, secara langsung mengajak para penonton di studio dan pengisi acaranya untuk TIDAK menjalankan Sholat Maghrib? Dan bukankah secara tidak langsung pula, mengajak para pemirsa di jagat nusantara, terutama penggemar acara ini, untuk menjauhkan bahkan melupakan sholat Maghrib?

Acara TV kita ini makin lama memang makin "biadab" terhadap Maghrib. Dulu Prime Time Show di TV adalah jam 19.00-21.00. Tapi kini meluas menjadi jam 17.30-22.00. Justru acara-acara menarik, kebanyakan diletakkan pada mulai jam 18.00. SCTV, RCTI, Indosiar, TPI menampilkan sinetron stripping unggulan mulai pukul 18.00. TV One, Metro TV dll mulai menyiarkan berita pada jam 18.00. TV 7 juga menampilkan reality show plus acara musik mulai jam 18.00. Trans TV biasanya menayangkan reality show, semisal reality show rekayasa yang populer itu, yakni Termehek-mehek. Awalnya memang bukan Live Show. Walau begitu, sedikit demi sedikit, dan kini pun semakin banyak, membuat orang lebih betah untuk nongkrong di depan TV dibandingkan sholat Maghrib, lalu mengaji. Buat penggemar berita, head line news itu biasanya ada di awal berita, lalu siapa sih yang ingin ketinggalan head line news. Buat penggemar sinetron, musik atau reality show, gak asyik kalau gak nonton dari awal karena gak tau jalan ceritanya.

Kini lebih keterlaluan lagi. Sudah obvious sekali, yakni acara siaran langsung, dilaksanakan menjelang waktu Maghrib, tanpa jeda dan putus, sampai waktu Maghrib itu habis. Jangan tanya apakah penonton langsung di studio berikut pengisi acaranya itu pada sholat Maghrib apa gak? Apakah pemrakarsa acara ini berani nanggung dosa dan resiko dengan mengajak orang tidak sholat Maghrib? Apakah mereka tidak berpikir jauh bahwa tindakannya ini, bukan cuma untuk Live Show, melainkan juga untuk acara-acara lain di jam tersebut, akan mengajak orang melupakan nilai-nilai religi dan mereka berani menanggung dosanya? Ataukah mereka gak peduli, meeka gak tau dan mereka cuek dengan nilai-nilai religi yang sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak langsung, telah mereka hapuskan? Pokoknya untung, dan perut sendiri gendut, plus kenyang dan banyak duit. Urusan religi? Emang Gue Pikirin, itukan salahnya penonton, kenapa mau ngelihat acara gue, salah mereka juga kenapa tergoda, dan itu kan dosa mereka sendiri. Mungkin begitukah pikiran mereka yang terkait dengan acara gak mutu di TV itu?

Saya kadang jadi bingung, seperti pada paragraf sebelumnya, apakah ini adalah suatu kelalaian belaka yang dilatarbelakangi ketidaktauan dan ketidak-pedulian pihak penyelenggara, ataukah ini adalah suatu kesengajaan yang terencana dan terorganisir, unuk menjauhkan umat Islam dari nilai-nilai religinya, secara pasti dan berangsur-angsur? Setiap saya sholat Maghrib di Masjid yang ada di dekat rumah saya di Jakarta, saya miris dan sedih. Maghrib di hari libur, tapi kok shaf yang terisi itu cuma full 1 baris saja, alias gak lebih dari 50 orang? Itu pun kebanyakan orang-orang tua yang sudah sepuh. Kemana anak muda, remaja dan bapak-bapak paruh bayanya? Apakah mereka lebih asyik menikmati acara TV, atau apa? Fenomena seperti ini, saya yakin terjadi di banyak tempat, dan mungkin bukan cuma di Jakarta. Masjid cuma bangunannya saja yang gagah tapi isinya melompong. Kegiatan di kala Maghrib, kini tiada lagi. Tadarussan jadi kenangan, mengaji jadi memberatkan, dengar ceramah jadi kurang asyik dll. Dan pada akhirnya bangsa kita bergerak ke arah sekuler dan jumlah yang sekuler pun semakin banyak.

Apakah hal ini menjadi concern atau perhatian KPI, pihak otoritas dll, dan apakah mereka memikirkan solusinya andaikan mereka concern? Entahlah, saya kadang bingung dengan KPI sekalipun. Mereka cuma bisanya melarang acara sekelas punyanya Tukul, dengan mengukur efek kuantitas, alias pelanggaran langsung acara itu. Tapi mereka tidak pernah melarang efek kualitas dari acara itu. Seperti misalnya sinetron yang penuh dengan dengan kekerasan, kebencian, kedurhakaan dll? Mengapa sinetron penjual mimpi seeprti itu dibiarkan bebas begitu saja? Apakah KPI tidak cukup qualified dan tiak punya kualitas plus kapabilitas untuk dapat melakukan penilaian atas kualitas suatu acara? Jangan diserahkan kepada produser dan pihak TV. Yang ada dipikiran mereka cuma untung daa duit, dan mereka gak akan peduli dengan fungsi Edukasi serta fungsi Sosial yang mereka miliki. Aneh bin ajaib, kadang saya jadi gemes dan gregetan. Ini bukan sekali dua kali disoal orang, tapi sudah puluhan kali, namun tetap saja tidak ada perubahan yang mendasar dan signifikan. Lalu kita harus bagaimana?

Apakah kita akan membiarkan generasi muda dan pemikiran bangsa kita direcoki oleh hal-hal yang tidak oenting? Dan apakah kita akan membiarkan bangsa kita melupakan nilai-nilai religi dan akhirnya berkembang menjadi totally sebuah bangsa yang sangat sekuler? Jangan salah, masyarakat kita itu bukanlah masyarakat pembaca, melainkan masyarakat penonton. Pengaruh TV jauh lebih merasuk ke dalam kalbu dan pikiran orang-orang kita. Realita ini adalah suatu ironi dari penggembar-gemboran pembangunan SDM. Meningkatkan kualitas pendidikan saja beserta anggarannya, tidak cukup, boss, kalau kondisi yang hendak diciptakan itu tidak dijaga dan dikondisikan dengan baik. Sudah tau acara TV makin ngawru dan sudah tau bahwa masyarakat kita adalah masyarakat penonton, lantas kenapa dibiarkan? Apakah ini atas nama HAM dan kebebasan, ataukah bagaimana, sehingga kita enggan dan sungkan untuk mengontrol atau membatasinya? Gak dimengerti dan suatu ironi, tapi itulah realitanya. Kini pun gak ada yang peduli, dan masyarakat mulai memahfuminya. Terbukti bukan, protes keberatan dari kalangan masyarakat, tidak ada lagi? Karena mereka telah enjoy menikmati nilai-nilai sekuler.

Akankah Maghrib yang telah hilang, yang dulu dipenuhi oleh lantunan ayat-ayat suci ataupun pengajaran kehidupan oleh para guru agama kita akan kembali lagi? Boleh jadi ia tak akan pernah kembali dan bahkan mungkin akan hilang selamanya. Itu bergantung seberapa penting kita menilai agama dan menjadikan agama sebagai apa dalam kehidupan kita. Maghrib itu akhirnya kan menghilang bersama dengan pudarnya nilai-nilai religi di kehidupan masyarakat kita. Hidup adalah pilihan, dan dengan input yang mereka peroleh akhirnya mereka tergiring untuk memilih nilai-nilai yang sekuler pada akhirnya. Mereka tergiring, dan gak bisa dihujat begitu saja. Justru yang perlu dicari tau adalah apakah penggiringan itu suatu kebetulan belaka, ataukah terencana? Dan adakah kita mau memanggil kembali sang Maghrib itu? Entahlah. Sebagai masyarakat biasa, akhirnya kita hanya terbentur pada kondisi mulailah dari diri kita sendiri, mulailah dari sekarang dan mulailah dari yang kecil-kecil.

Wassalaam,
Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Jun
26

Assalaamu ‘alaikum,

Pagi-pagi, teman-teman kantor di sini udah ramai membicarakan sesuatu. Saya pun ikut nimbrung. Apa sih yang diramaikan mereka? Apakah wabah Swine Flu yang sudah mencapai hampir 315 orang dan menyebabkan salah satu Politeknik di sini ditutup? Ataukah apa yah? Oalaa, ternyata yang dibicarakn adalah kematian dari Michael Jackson alias Jacko, penyanyi legendaris yang juga punya banyak kontroversi. Jacko dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung pagi ini. Halah, penting gak sih ngomongin Jacko? Tergantung juga. Yang jelas, Jacko merupakan salah satu penyanyi yang paling banyak penggemarnya di seluruh dunia. Besok, berita kematiannya boleh jadi akan menjadi headline news. Saya pun punya koleksi lagu-lagu Jacko, sampai yang terakhir di album Past, Present and Future. Lagu dia yang paling saya suka adalah Ben, Billie Jean, Heal the World, We Are The World (keroyokan) dll.

Ingat Jacko, saya jadi ingat kenangan lebih dari 10 tahun lalu, saat menonton konser langsung Jacko di Fukuoka Dome. Bayarnya lumayan, sekitar 10 ribu yen. Karena semua lagu Jacko adalah berbahasa Inggris, sedangkan orang-orang Jepun susah ngomong Inggris, termasuk menikmati lagunya, akhirnya yang paham dan ngerti juga dikit. Konsernya jadi "agak lucu". Penontonnya tertib banget. Semua penonton duduk di bangku yang sudah dikasih nomor. Ketika lagu selesai mereka bertepuk tangan, selagi lagu dinyanyikan mereka diam menyimak. Gak ada tuh yang jejingkrakan, kayak konser-konser seperti acara Inbox, Dahsyat di TV kita.

Gak asyik banget jadinya. Paling gak, kalau pun ada tempat duduk, seperti konsernya 3 Diva, Vina dll, yang kelas festival pada nyanyi-nyanyi lah, ataupun semua penonton bareng-bareng koor. Yah, bahasa ternyata memang jadi kendala. Saya, dengan "sedikit merasa aneh", jadi ikut larut gaya para Jepun itu. Konsernya bagus, dan atraktif. Ada miniatur tank yang nongol di panggung, pakaian Jacko ala robot dll. Atraktif dan menarik, serta heboh. Sayangnya penontonnya pada kagak heboh, so jadi keliatan lucu. Pengen banget nonton Jacko di Singapore ini, tapi gak pernah datang ke sini.

Jacko kini tinggal kenangan. Dia pernah married dengan anaknya Elvis Presley alias Lisa Marie Presley. Sayangnya di tahun belakangan ini dia jarang lagi meluncurkan album. Walau begitu namanya akan tetap dikenang sebagai salah satu legenda hidup. Hidupnya penuh kontroversial. Walau menikah, tapi dia juga dikabarkan seorang pedofilia yang lebih menyukai bocah pria alias kaleng rombeng juga. Kalau kita lihat Jacko dalam Jackon Five di klip nya Ben, waktu itu wajahnya masih hitam legam. Tapi di lagu Black or White, wajahnya sudah jadi putih sekali. Apakah dia terkena kanker kulit, ataukah memang gak Pede, sehingga mengecat warna kulitnya? Jangan-jangan Black or White merupakan simbol dari dirinya sendiri.

Satu lagi musisi dunia yang punya banyak penggemar itu, telah pergi. Emang sih bagi sebagian orang, gak penting-penting banget. Emang siapa sih dia? Tapi gak gitu, buat para fans-nya. Sebentar lagi album Jacko bakal laris manis diburu. Lagu Jacko akan terus dikenang oleh banyak orang dunia. Sayang, koleksi lagu Jacko harus terhenti di situ. Tetap saja lagu Ben dan Heal The World yang bagi saya the best, meskipun dia punya lagu baru lagi. Tapi kini, rasanya lagu-lagu English dah gak ada yang menarik dan baru. Terakhir, lagu English yang atraktif adalah My Humps-nya BEP, ada juga sih lainnya seperti Raise Me Up dll. Namun gak ada yang seheboh seperti saat Westlife, MLTR dll booming. Itu mungkin masa terakhir kejayaan lagu-lagu barat. Kawula muda kita sendiri kini lebih senang lagu Indonesia, yang jumlahnya luar biasa melimpah, dan seakan udah gak perlu lagi lagu barat. Jarang sekali saya dengar lagu barat yang hits lagi. Yah, mungkin karena singer legendaris sekelas Jacko sudah tak muncul lagi.

Wassalaam,

Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Jun
26

Assalaamu ‘alaikum,

Sebenarnya tulisan yang ini mau saya jadikan gong. Tapi karena "telanjur" saya bocorkan ke sebagian teman, dan melihat perseteruan yang menuju ke politik bumi hangus di antara pendukung Capres no. 2 yang nota bene adalah koalisi Parpol Islam plus-plus dan pendukung Capres no. 3 yang sering memakai isu agama, akhirnya saya keluarkan lebih awal. Mari kita lihat realitas politik yang ada. Apakah Pilpres itu perlu 2 putaran ataukah cukup 1 putaran saja? Andaikan 2 putaran, siapa yang bakal maju ke putaran kedua? Di email saya sebelumnya, yang berjudul "Strategis Bukan Pragmatis xxx", saya sudah menjabarkan data-data akan realita masyarakat kini berdasarkan hasil survey terbaru. Andaikan 2 putaran besar kemungkinan yang akan menjadi lawan SBY Berbudi adalah Mega Pro. Karena Mega Pro memiliki basis massa militan, yang ate least berjumlah 15% dari total pemilih. Sedangkan massa JK Win itu cair dan baru muncul sedikit di sana-sini. Kalau memang pendukung JK Win itu yakin bisa mengalahkan Mega Pro, buat saya gak masalah kalau JK Win yang jadi lawan SBY Berbudi dan Pilpres itu berlangsung 2 putaran.

Buat saya pribadi, sosok JK, himself gak masalah. Tapi sekali lagi, bagaimana realita-nya gimana? Kalau memang susah, ya dukung aja 1 putaran. Andaikan terjadi 2 putaran, dan yang maju adalah Mega Pro, hampir pasti JK Win akan nempel ke Mega Pro. Apakah kalau sudah begini, pendukung JK Win akan tetap bersikukuh untuk membela mati-matian JK dan memilih Mega Pro? Begitu pula andaikan JK Win jadi nomor 2 dan Pilpres menjadi 2 putaran. Most likely, Mega Pro akan nempel ke JK Win. Pokoknya asal jangan SBY, dan Mega plus Prabowo paling anti dengan SBY. Apakah kalau demikian kondisinya, pendukung JK Win juga akan mati-matian membela JK Win sekalipun Mega Pro nempel mereka? Inilah yang sebenarnya saya maksudkan pilihan strategis, dan Parpol Islam sudah berhitung ke sana, baik itu PKB, PAN, PKS dan PPP. Ngenes rasanya liat politik bumi hangus antara kubu JK Win dengan SBY Berbudi. Mau jadi apa umat ini, gampang sekali diadu domba.

Ayo dukung PILPRES Satu Putaran. Gak ada gunanya politik bumi hangus, toh yang dibumi hanguskan juga adalah parpol Islam, hanya demi sesosok JK. Lebih penting mana koalisinya Parpol Islam dengan Pak JK? Yuk, kita lihat realita strategisnya. Lihat pula siapa di belakang JK Win. Mereka adalah Golkar, dan Hanura setali 3 uang dengan Golkar. Golkar itu sudah pernah memerintah kita selama 32 tahun, dan orang-nya ya itu-itu aja, dan sistemnya gak banyak berubah. Namun sebagai partai tertua, Golkar lihay sekali mengemas isu-isu politik. Gerbong yang dibawa JK Win pun bisa ditutupi dengan mencoba mem-blow up isu jilbab istri, fitnah agama istri Cawapres dll. Saya gak akan membahas Mega Pro lebih jauh, karena kuatir dituduh Black Campaign, dan semua yang di sini sudah tau bagaimana performa mereka serta kualitas mereka. Silahkan dipikirkan efek strategisnya dari semua ini, dan adakah untungnya politik bumi hangus antara pendukung no.2 dan no. 3? Sudah selayaknya yang no.3 itu mengalah, dan ini demi kepentingan yang lebih besar, kecuali kalau memang kita ingin no. 1 yang naik.

At the end, JK akan nempel ke Mega Pro, andaikan Pilpres berlangsung 2 putaran, baik yang maju itu Mega Pro, maupun JK Win. Most likely kalau terjadi 2 putaran, maka yang akan maju adalah Mega Pro. Apakah kalau sudah begini, sampeyan masih berniat mau dukung JK Win, meskipun tau bahwa finally JK Win akan menempel ke Mega Pro? Apakah dengan demikian itu tidak berarti kita lebih mementingkan sosok seorang JK daripada naiknya pejabat yang amanah melalui parpol Islam yang mendukung SBY Berbudi? Come on, wake up, Man! Inilah sebenarnya gong yang mau saya sampaikan kepada para pendukung JK Win. Please liat realitas dan juga arti strategis dari ini semua. Bukan cuma karena pemikiran sesaat apalagi terpengaruh karena Black Campaign yang digencarkan di sana-sini. Lihatlah sesuatu secara general, dan timbang Manfaat serta Mudharat-nya secara keseluruhan. Tidak ada satupun Capres yang sempurna, tapi pilihlah yang terbaik di antara mereka, yang memberikan manfaat terbanyak dan mudharat yang sedikit. Tentunya dengan mempertimbangkan juga realitas yang ada.

Ayo kita dukung Pilpres Satu Putaran Saja.

Wassalaam,
Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Apr
14

Assalaamu ‘alaikum,

Hmm, liat kelakuan elit politik kita yang gak mau terima kekalahan pada Pemilu lalu, jengah juga rasanya. Saya gak bermaksud bela Pak SBY, dan saya juga sejujurnya gak nyoblos Demokrat, melainkan nyoblos caleg dari salah satu partai, yang saya anggap bagus. Kan milih caleg, bukan partai. Tapi sebel juga rasanya dengan perkembangan akhir-akhir ini. Yang katanya orang besar di partai dan pemimpin rakyat, ternyata sikapnya gak lebih seperti anak-anak yang kalah main gundu. Maunya menang melulu. Sekali kalah langsung nuduh dicurangi. Lantas main keroyokan. Kasian aja liat Pak SBY yang diam dan santun tapi terus dizhalimi. Sesabar-sabarnya orang, pasti ada batasnya. Semoga Pak SBY gak terpancing akan provokasi mereka, karena hal itu bisa menjadi blunder buat dirinya sendiri.

KPU kali ini memang kinerjanya amburadul, apalagi di dalamnya tidak ada nama besar yang kualitasnya sudah diakui banyak orang, dan banyak yang tidak ahli di bidangnya. Ramlan Surbakti, mantan orang KPU lama, dalam wawancara dengan Kompas minggu lalu, mengatakan tentang perlunya keahlian di pelbagai disiplin ilmu dari masing-masing anggota KPU. KPU dulu punya Pak Nazarudin Syamsudin, yang ahli hukum tata negara, ada Bu Chusnul Mariyah yang ahli kependudukan, ada Mulyana W. Kusumah, Anas Urbaningrum, Valina Singka Subekti, Pak Ramlan sendiri, Pak Hamid Awaluddin dll. KPU kali ini gak kedengaran nama-nama bekennya. Tapi siapa yang milih KPU? Bukannya yang menyeleksi mereka itu adalah DPR juga? Dari 550 anggota DPR, yang berasal dari Golkar adalah 129 orang, dari PDIP ada 109 orang, sedangkan dari PD cuma 53 orang. Kalau KPU disalahkan, mereka yang menyeleksi, yakni para anggota DPR juga patut disalahkan, kenapa mereka pilih orang yang salah?

KPU sebenarnya sudah mencoba bekerja sebaik mungkin. Mengenai kisruh DPT, sebelum diresmikan menjadi DPT, adanya yang namanya DPS atau Daftar Pemilu Sementara. Ini dikeluarkan oleh KPU. Masyarakat diminta melakukan pengecekan, dan KPU terlalu mengandalkan hal itu. Sedangkan sikap orang kita adalah santai dan minta dilayani. Jadi mana mau mereka susah payah dan bela-belain pergi ke kelurahan untuk mengecek nama mereka di DPS. Saya aja, sejak pindah ke rumah baru, dalam 4 tahun ini cuma pernah pergi sekali ke kelurahan, itu pun demi mengurus Kartu Keluarga. Sialnya KPU juga mencoba mengirim aparat untuk verifikasi ke rumah-rumah. Kata mertua saya, orang kelurahan gak bakal mau jalan kalau gak ada duitnya. Zaman sekarang gak ada yang gratis, gak ada pula yang mau jadi volunteer cuma-cuma. Emang gak capek, keliling sana-sini gak dibayar. Di sinilah gak ketemu, yang satu malas, yang satu mengandalkan dan yang satu lagi ogah jalan. RW dan RT sendiri sudah banyak yang mengabarkan warganya untuk mengecek DPS, tapi warga emang pada malas dan cuek, mau gimana lagi? KPU berkilah dana dari Depkeu telat. Nah lho, jadi meleber kemana-mana masalahnya.

Ujung tombak untuk verifikasi data pemilih sebenarnya adalah di aparat kelurahan, lalu turun ke RW dan RT. Kalau aparat-aparat pemerintahan terkecil tersebut tidak netral, kemungkinan terjadinya manipulasi di DPT tetaplah ada. Seorang teman mengabarkan, upaya tersebut telah dilakukan saat Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. Di situ ada kesengajaan penghilangan nama para pemilih. Karenanya, salah satu partai Islam yang sudah modern, meminta kadernya untuk mencermati DPS dan meminta para kadernya mendaftar atau melaporkan apabila ada keganjilan. Para kader beruntung karena ada yang membimbing, namun bagaimana dengan masyarakat? Menurut teman di salah satu milis, meski kini sudah zaman reformasi, hegemoni Golkar di aparat desa dan kelurahan memang masih besar. Satu lagi, KPU menyerahkan verifikasi pemilih ke Pemda masing-masing setelah mendapatkan data dari Depdagri. Tapi taukah anda siapakah yang paling banyak menjadi Pemda saat ini di Indonesia? Siapa lagi kalau bukan berasal dari Partai Golkar dan PDIP. Lantas kenapa partai lain yang disalahkan?

Untuk kasus surat suara tertukar, bisa "dimaklumi" pula. 4 tahun lalu, kita masih memilih partai. Jadi kalau surat suara tertukar, semisal yang di DKI Jakarta dengan di Papua, tetap gak jadi masalah, karena surat suaranya sama dan tinggal nyoblos partai. Tapi kali ini kan beda. Kali ini di surat suara, ditulis nama para caleg sesuai dengan Dapil masing-masing. Di Indonesia itu ada ribuan Dapil dengan sebaran setengah juta lebih TPS. Musykil rasanya untuk bisa bekerja sangat sempurna dengan menghilangkan kasus tertukarnya surat suara. Surat suara seperti itu, bukankah juga konsekuensi dari keputusan MK yang menghendaki pemilihan Caleg adalah berdasarkan suara terbanyak dan bukan berdasarkan nomor urut? Suatu ide yang bagus. Namun karena hal ini baru pertama kali diimplementasikan, jadi wajarlah kalau terjadi kekurangan sana-sini.

Sebenarnya berapa persen sih kisruh DPT itu? Berapa persen sih mereka yang kehilangan hak suaranya? Apakah dengan demikian lantas sampai Presiden harus disalahkan? KPU itu kan lembaga independen yang dipilih oleh DPR. Ngapain juga Presiden sampai njlimet ngurusin masalah teknis seperti itu. Apakah memang mereka yang kehilangan hak suaranya, semuanya akan memilih partai para pecundang, seperti PDIP, Gerindra dan Hanura? Gak juga kok, banyak di antara mereka yang justru mungkin memilih Demokrat, PKS dll. Kerabat saya aja yang gak masuk DPT, sebenarnya mau milih Demokrat. Malah justru kalau DPT lengkap dan bagus, kemenangan Pak SBY, boleh jadi akan semakin membesar. Yang kena efek dari kisruh DPT ini bukan cuma para partai pecundang ini, tapi semua partai. Apakah dengan kisruh DPT ini, yang gak ada data berapa besar efeknya, lantas hasil Pemilu dianulir? Jangan gila dong, apalagi sampai akan diadakan Pemilu ulang. Pilkada di Sampang dan Bangkalan yang diulang saja sudah memakan biaya 44 milyar, dan hasilnya tetap sama, apalagi Pemilu yang cakupannya se-Indonesia Raya?

Tapi begitulah mental pecundang, yang gak mau mengakui kekalahan, dan beraninya keroyokan. Semakin mereka gak besar jiwa dan terus mengeroyok, rakyat justru akan semakin bersimpati kepada Pak SBY yang tetap sabar dan santun. Apa sih maunya para pecundang itu sebenarnya? Wajarlah kalau Emha Ainun Najib berkata bahwa koalisi kita lebih rendah dari binatang, karena meskipun berbeda platform, tapi bisa bersatu karena punya kepentingan dan ambisi yang sama, sama-sama pengen berkuasa dan gila berkuasa. Kemenangan Pak SBY kali ini, walau dimasalahkan karena kisruh DPT, tetaplah nyata adanya. Hasil survey berbagai lembaga survey sebelum Pemilu, telah mengindikasikan hal itu. Dan akhirnya semua itu diperjelas dengan Quick Count. Apakah kita akan berdalih lagi bahwa lembaga survey itu dibayar untuk menggiring opini? Jangan Gila lagi brur. Mereka adalah lembaga independen. Boleh jadi ada yang dibayar dan dipesan, namun ini hampir semua lembaga survey memberikan hasil survey dan quick count yang sama. Apakah kita mau bilang mereka semua dibayar? Quick Count itu adalah metodologi statistik ilmiah yang hasilnya didasarkan pada sampling di beberapa wilayah yang dianggap representatif. Ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mereka yang dipesan, tidak akan memberikan data yang kredibel, dan dengan sendirinya akan runtuh karena tidak dipercaya oleh masyarakat.

Barusan saya dapat data dari seorang teman di Singapore. Sampai hari ini, sudah sekitar 15140 suara yang masuk alias baru 60% dari total suara, hasil sementara menunjukkan PD ada di urutan teratas dengan 43,2% suara, lalu disusul PDIP dengan 18,5% suara dan Golkar dengan 13,1% suara, serta PKS dengan 4,1% suara. PD yang menang di sini. Di TPS dekat rumah saya, katanya PD juga menang. Di TPS tempat sobat saya menjadi saksi, PD dan PKS berkejar-kejaran. Jadi memang dimana-mana PD yang menang. Hasil survey yang gak ada hubungannya dengan DPT juga menyatakan demikian. Litbang Kompas pun meramalkan hal yang sama, begitu pula Tempo, Gatra, dan pelbagai lembaga survey seperti LSI, Lingkaran Survey, LP3ES, CIRRUS dll. Itukah realita yang ada di masyarakat. Kenapa lantas para elit politik kita ngamuk-ngamuk? Kenapa mereka gak mau terima kalah? Kenapa mereka lantas menuding Pak SBY sebagai pihak yang salah? Saya pribadi gak milih Demokrat, meski Demokrat menang, karena saya lebih lihat ke hal Caleg, dan Caleg yang saya pilih, saya nilai lebih baik dan berkualitas dibandingkan dengan Caleg PD. Malah justru di Dapil 2, saya gak liat ada Caleg PD yang punya nama besar, apalagi yang sudah ketauan kinerjanya. Jadi saya gak pilih PD. Namun orang banyak pilih PD, karena senang dengan Pak SBY, dan Pak SBY identik dengan PD. Saya pun Insya Allah akan pilih Pak SBY, meski PD tidak saya pilih dalam Pemilu lalu.

Tentang kelakuan brekele dari elite politik yang main tak tau diri ini, saya jadi teringat dengan SMS dari seorang teman di akhir minggu lalu sebelum saya kembali ke negeri jiran. Teman saya bertugas sebagai saksi dari Partai yang berslogan bersih, peduli. Kebetulan kami kontak-kontakan via SMS semenjak pagi hari saat dia mulai menjadi saksi. Dengan jengkel, di SMS terakhirnya, dia kecewa dengan sikap partai para pecundang, khususnya Gerindra, Hanura dan PDIP, yang dengan seenaknya menggampangkan Pemilu dan menganggap tidak valid. Sobat saya ini bertugas sebagai saksi, dan harus bekerja sampai pukul 12 malam. Bahkan ada yang baru menyelesaikan tugasnya jam 3 pagi. Apakah para elit politik gila itu gak menghargai kerja keras para saksi dan KPPS? Untuk kerja banting tulang seperti itu, sobat saya cuma dibayar 100 ribu. Lalu ia dapat SMS terima kasih dari pengurus partai, serta doa agar amalnya sebagai saksi itu berpahala. 100 ribu itu chincai buat teman yang jadi manajer di salah satu bank BUMN ini. Tapi mungkin besar artinya buat 2 saksi lainnya yang ternyata pengangguran. Demi 100 ribu saja, mereka mau kerja sampai tengah malam. Terus, apakah kerja keras mereka ini gak ada artinya? Orang gede memang enak ngomongnya, tapi orang kecil yang di bawah cuma bisa sakit hati mendengarnya.

Mental pecundang, sampai kapan pun gak akan sembuh. Saya setuju kalau kisruh DPT disoal demi perbaikan saat Pilpres nanti. Namun hendaknya dilihat secara general apa permasalahannya, dan bukan ngomong sa karepe dewek, apalgi sampai menyalahkan orang secara serampangan. Saya sedih dan prihatin. Pengen lihat fenomena seperti di AS, Australia, Inggris dll, saat pihak yang kalah, dengan gentle dan jantan langsung memberikan selamat kepada si pemenang. Kalah dan menang dalam pertandingan adalah hal biasa. Toh, dunia tidak kiamat, hanya karena kita kalah hari ini. Apalagi bukti-bukti di survey dan sana-sini telah menyiratkannya, dan hasilnya memang sama antara sebelum dan setelah pemilihan. Mengapa lagi-lagi kita tidak bisa berjiwa besar untuk menerima hal itu? Inikah sikap yang pantas dintujukkan oleh para negarawan kita? Pantaskah mereka disebut sebagai seorang negarawan?

Malu rasanya punya negarawan yang punya sikap childish seperti itu. Slogan Siap Menang dan Siap Kalah cuma slogan bullshit yang tak pernah diimplementasikan. Capek rasanya dengar kelakuan aneh petinggi kita itu. Mereka juga gak sadar, bahwa kedudukan mereka adalah negarawan, yang tindak tanduknya diteladani dan diikuti oleh sebagian masyarakat. Kalau mereka gak punya tanggung jawab dan merasa sebagai seorang teladan, silahkan turun panggung sebagai negarawan, dan rakyat tidak membutuhkan mereka. Tapi apakah rakyat pernah memberikan gelar negarawan yah kepada para pecundang seperti mereka itu?

Hanya sebuah opini, maaf kalau tidak berkenan.

Wassalaam,
Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Jan
19

Assalaamu ‘alaikum,

Pemerintah Singapore akhirnya mempertimbangkan untuk memakai National Reserves (NR) guna mengatasi krisis ekonomi kali ini. Ada apa dan apa yang terjadi sebenarnya. Berita di jiran ini memang disensor cukup ketat sehingga kita sulit mengetahui apa yang sejatinya tengah berlangsung. Semoga tidak terjadi apa-apa, karena sang PM sendiri sudah “mengisyaratkan” akan melindungi WN negerinya, dan me-lay off foreigners terlebih dahulu, dan boleh jadi imbasnya ke kita-kita juga nantinya. Rencana pemakaian NR memang mengundang pro kontra, yakni apakah memang sudah saat ini sudah selayaknya NR dipakai, bagaimana dengan nasib generasi ke depannya apabila NR terpakai dan sebenarnya seberapa gawatnya kondisi ekonomi Singapore itu sendiri.

Singapore memang banyak bergantung ke bidang jasa, perdagangan dan investasi. Meski “ditutup-tutupi”, semua sudah mahfum bahwa Temasek Holding dan GIC menderita kerugian yang hebat akibat “investasi sial”nya di perusahaan penyakitan seperti Merryl Lynch, UBS, Citi Group dll. Hancurnya nilai saham di berbagai belahan dunia, sudah tentu mereduksi aset yang mereka tanamkan, yang meski begitu dijawab oleh sang PM dengan cool bahwa hal itu adalah investasi jangka panjang, jadi calm down dulu saat ini sambil berharap nilainya naik kembali di masa depan. Perdagangan Singapore pun jatuh 10%, dan Christmas Sale yang lalu “dingin sekali” akhirnya, seperti yang diungkapkan oleh salah satu teman saya yang datang belanja ke sini. Lalu, 30% dari crane di PSA kini menganggur karena lalu lintas barang juga menurun drastis sebagai akibat dropnya produksi yang merupakan efek dari turunnya demand akan barang di berbagai belahan dunia.

Yang terburuk belumlah lagi datang. Teman yang orang sini pun cerita tentang kisah lay off yang diam-diam mulai marak di sana-sini. Bahkan di distrik South West pun sudah dimulai program Recycle Minyak Goreng. Para residen boleh menukar 1 liter minyak goreng yang sudah dipakai dengan SGD 0.20. Katanya sih untuk menghemat energi. Tapi kita semua juga tau harga minyak sawit, yang cikal bakal minyak goreng, sudah anjlok drastis, so kalau beli minyak yang murah saja sudah dipikir-pikir, memang seberapa gawatnya sih sakitnya? Pemerintah sini pun akhirnya juga “setengah memaksa” Las Vegas Sands untuk merampungkan proyek Casion di Marina Bay, tahun ini juga. Padahal Las Vegas Sands itu merugi di Las Vegas dan ngemplang utang yang jumlahnya puluhan trilyun. Mereka pun akhirnya menunda proyek di macau, dan “memilih” menyelesaikan Casino di tahun ini juga.

Lagi-lagi kita tau, bisnis yang jarang merugi itu ada 3, yakni Drugs, Woman dan Gambling. Yang 2 pertama gak mungkin dilakukan, so yang terakhir adalah easy money. Minimal, kalau dijalankan di tahun ini juga, diharapkan akan menghasilkan lapangan kerja baru, mendapatkan pemasukan dari judi dan pajaknya, dan pada akhirnya akan menggairahkan kembali roda ekonomi secara keseluruhan. Kalau judi adalah salah satu asa, kenapa tidak dipilih? Tapi bagaimana pula jika orang pun berhemat untuk berjudi? Toh, pada kenyataannya, Genting Highlands dan las Vegas, 2 operator pemenang tender Casino di sini, tahun lalu merugi cukup besar. Pemasukan dari berjudi tak mampu menutupi overhead operasional Casino mereka. Resesi macam apa ini, kalau judi saja bisa merugi?

Singapore pun juga bergantung pada kedatangan turis asing yang ditargetkan sekitar 10 juta tahun lalu. Menciutnya jumlah turis sudah terasa sejak pertengahan tahun lalu, dan mereka berharap kehadiran F1 malam yang spektakuler, dan memang meraih penghargaan sebagai F1 terbaik tahun lalu, akan mampu meningkatkan arus turisme ke negerinya. Namun nyatanya, tak ada peningkatan signifikan dari jumlah turis, berkat event olahraga ini. Jumlah turis tetap loyo, padahal anggaran yang dikeluarkan sudah sangat besar, termasuk untuk menyediakan 3 juta Watt listrik sebagai penerangan, berikut perbaikan infrastruktur ajalan, hanya demi F1 ini. Entah bagaimana nasib F1 tahun ini, dan boleh jadi, di tahun kedua nanti, tidak akan semeriah tahun pertamanya. Begitu opini dari seorang kolega di kantor saya.

Yang sangat mengkhawatirkan dan sudah diakui oleh Pemerintah sini adalah kemungkinan terjadinya surrender lebih dari 10000 rumah baru, dimana 4500 di antaranya bakal di surrender tahun ini. Di Singapore sebelum ini memang ada kelonggaran dalam booking rumah baru. Di tahun 2006 sampai pertengahan 2008, ekonomi dunia sedang berada di puncaknya. Pembangunan Casino dan IR ikut mendorong bergairahnya ekonomi lokal dan diikuti dengan pembangunan banyak properti yang nantinya di antaranya diharapkan bakal ditempati oleh wisman yang datang main casino di sini, dan juga untuk menopang proyek 6 juta penduduk di tahun 2012 (CMIIW). Orang pun bergairah tuk berinvestasi di bidang properti. Anda cukup bayar booking fee sebesar 5% saja dari harga beli rumah, dan karena ekonomi sedang bagus, bank gak terlalu peduli dengan kemampuan finansial orang tersebut. Semisal harga rumah adalah SGD 1 juta, maka kita perlu bayar booking fee alias DP sebesar SGD 50k saja. Biasanya, ada orang lain yang tertarik untuk membeli rumah yang sudah di booking tapi belum jadi itu. Maka kita bisa menjualnya, semisal seharga SGD 1,2 juta. Kita sudah untung SGD 200k, padahal belum lihat rumah yang kita booking, karena memang belum jadi, dan DP SGD 50k itu pun bisa kita bayar lunas, dan kita langsung dapat untung. Demikian seterusnya.

Namun zaman berkata lain. Kini ekonomi dunia sedang mengalami downturn. Padahal pembangunan properti akan selesai pada 2009 dan 2010 ini. Kalau properti sudah selesai dibangun, maka installment haruslah dimulai. Karena ekonomi lesu, maka harga properti pun anjlok, dari semisal di atas SGD 1,2 juta, bisa jadi anjlok, misalnya ke cuma SGD 200k. Repotnya orang khawatir akan pekerjaannya, sehingga gak pasti apakah dia akan mampu membayar installment itu? Belum lagi, boleh jadi dia sejatinya gak punya kapabilitas untuk membayar installment dari loan SGD 1 juta, tapi dulu bank gak terlalu peduli dan ekonomi sedang bergairah dengan jual beli singkat dan spekulatif. Kini karena memang sejatinya sudah gak mampu bayar, begitu dihadapkan pada tagihan yang real, at the end, mereka harus surrender rumah, dan karena harga rumah sudah anjlok, jadinya bukan untung, melainkan buntung. Tentunya Pemerintah sini sedang berpikir keras agar efek bola salju dari kemungkinan surender rumah itu tidak melebar kemana-mana.

Yah, semoga gak terjadi apa-apa dan sesuatu yang serius di sini. Kalau investasi, perdagangan dan jasa bergairah kembali, tentulah fajar akan menyingsing kembali di sini, karena di bawah kolong negeri Singapore tidak ada yang namanya mineral, minyak bumi dll. Beruntunglah sebenarnya Indonesia, yang meski belum dikelola secara maksimal, sebenarnya punya simpanan yang bisa dipakai untuk survive nantinya. Lagipula, Indonesia sudah pernah mengalami krisis multi dimensi sekitar 1 dekade lalu, so boleh jadi krisis kali ini, yang cuma krisis finansial belaka, akan dengan tegar bisa dilewati. Walau, hmm, saat ke sana, suasana di Indoensia masih adem-ayem, tapi pertanda apa juga gak jelas. Yang jelas di nusantara, kalau memang belum menyentuh kebutuhan dasar yang berkaitan dengan perut, gak akan ada rame-rame. Ya ya, semoga krisi kali ini baik di Indonesia dan Singapore, juga dunia, bisa dilalui dengan selamat.

Wassalaam,
Papa Fariz & Ayya aka Mas Boedoet

Feb
12

Assalaamu ‘alaikum,

Benarkah taksi di jiran ini gak lebih ramah dari taksi kita?

Semalam balik dari Jakarta, langsung naik taksi dari Changi. Ketika saya jawab mau ke Tanamerah, lokasi yang cuma 10 menit dari Changi, si Apek sang sopir taksi pun langsung merengut sambil menggerutu. Katanya, today, my luck is “very good”. Sudah 3 kali dapat giliran dari Changi, semuanya gak ada yang lebih jauh dari Tampines, alias semuanya cuma berjarak tempuh kurang dari 15 menit dari Changi. Bener-bener bad luck, lanjutnya. It made me feud up, katanya.

Untung aja saya dah setengah ngantuk, karena tiba di Changi sudah jam 2 malam. Biarin aje dia ngoceh kayak gitu, Emangnya Gue Pikirin. Geblek juga nih si Apek. Apa salah kalo saya dan orang-orang yang lain punya rumah di dekat Changi? Apakah orang yang tinggal di dekat Changi itu gak berhak naik taksi? Toh kan dia bisa balik lagi muter ke Changi setelah ngantar saya, misalnya. Walau begitu saya coba memaklumi, karena ngantri di Changi itu lama, dan tentunya bete, kalo ngantri lebih dari sejam tapi dapat duitnya cuma sedikit. Namun, bukankah itu juga tidak bisa menjadi alasan untuk mengeluh apalagi sampai mengumpat di depan customer.

Kadang saya baca di koran sini, beberapa pembaca mengeluhkan perkataan sopir taksi yang gak sopan. Bahkan dulu ada yang sempet ribut, karena diturunkan di tengah jalan oleh pak sopir, sebab tujuan akhir hanyalah 10 menit dari Changi. Sang penumpang pun meradang, dan sang sopir kena sangsi. Yang kasian, sopir lain yang baik-baik juga kena getahnya, karena peraturan terhadap sopir taksi diperketat.

Bagaimana dengan di Jakarta? Separah-parahnya taksi di Jakarta, kecuali taksi perampok, gak pernah ngomong yang gak enak gitu. Paling kadang mereka mengeluh penghasilan yang ngepas sebagai sopir taksi. Biasanya mereka selalu kerja 2-1, alias 2 hari kerja dan 1 hari istirahat. Kalo yang pakai sistem komisi, kadang cuma dapat komisi 60 ribu-an. Yang pakai sistem setoran, bisa nyisa 100 ribu-an, tapi kalau lagi apes, malah nombok. Tips dari tamu lah yang diharapkan bisa nambah duit buat mereka. Tapi kalo sang tamu pelit, hendak dikata apa? So, buat yang punya duit lebih, gak usah sungkan untuk ngasih tambahan tips barang 3-10 ribu. 3 ribu mungkin kecil buat kita, tapi sangat berarti buat mereka.

Hanya saja, yang kadang menjengkelkan, taksi suka “nolak” untuk mengantarkan kita, dengan alasan macetlah, mau langsung balik ke pangkalan dll. Atau kalaupun mau, mereka mintanya borongan, yang harganya bisa 2-3 kali lipat dari argo. Teman pun pernah kecele, dibilang tarif lama, di tengah jalan dari bandara, dimintai penyesuaian tarif. Kalau udah gini, mau gak mau, meskipun antri, si taksi biru yang tetap setia dinanti oleh para penumpang. Harga beda dikit gak jadi masalah, yang penting nyaman, aman dan service-nya bagus. Konsep sederhana, yang sayangnya gak dihayati oleh perusahaan taksi lainnya. Wajarlah kalau si taksi biru itu kini mampu merajai jalan-jalan di Jakarta, bahkan sudah merambah ke kota lain.

Naik taksi memang kadang jadi last choice, kalau kita dari bandara ataupun kalo gak punya mobil sedang barang bawaan banyak. Kalau di sini sebagian sopir taksi gak ramah, di Jakarta sebagian taksi gak keurus, mulai dari fisiknya yang amburadul, sampai yang mintanya borongan. Kalau di jiran kita, sang sopir umumnya adalah apek-apek yang udah pensiun, ataupun kena PHK, ataupun tuk mengisi waktu luang, tapi di Jakarta, taksi malah menjadi pekerjaan utama, alias hidup-mati, dan ngepul gaknya asap dapur tergantung dari situ. Kasian juga, apalagi di tengah harga-harga di Jakarta yang terus melambung kian hari. Semoga para pak sopir itu, baik di jiran ini maupun di Jakarta, tetaplah bisa ramah dan tersenyum, meski penghasilan mereka begitu ngepas. Memang sulit rasanya buat senyum kalau lapar melilit perut. Buat kita pengguna taksi, barangkali kita sudi melebihkan uang bayaran kita, apalagi kalau sang sopir ramah.

Hanya sebuah opini.

Wassalaam,

Papa Fariz aka Mas Boedoet

Jan
29

Assalaamu ‘alaikum,

Innalillahi wa inna ‘ilaihi roji’un, telah berpulang ke Rakhmatullah, mantan Presiden kita, Pak Harto pada hari Minggu 27 Januari 2008 jam 13.10. Semoga amal kebaikan beliau diterima di sisi-Nya, dan semoga kekhilafan beliau dapat kita maafkan dan kita ambil hikmahnya sebagai suatu pelajaran dari sejarah.

Kaget juga, siang-siang saat sedang santap siang di salah satu pusat perbelanjaan di selatan Jakarta, orang-orang mengerumuni layar TV yang terpampang di sana. Ternyata salah satu putra besar bangsa itu telah wafat setelah koma selama 3 minggu.

Apa pun jadinya, jasa beliau teramat besar untuk bangsa ini. Di masa lalu kita pernah menjadi salah satu macan Asia, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, serta keberhasilan dalam beragam bidang pembangunan. Beliau berprinsip bahwa stabilitas nasional adalah mutlak diperlukan demi terlaksananya pembangunan. Meski untuk itu akhirnya ada hal yang dikorbankan dan ada orang yang menjadi korban dan ada orang yang memanfaatkan celah dari kondisi itu. Pembangunan fisik memang nyata, dan at least kita selamat untuk tidak menjadi suatu bangsa komunis, seperti layaknya Korea Utara, Vietnam, Laos dll. Tapi memang, manusia tak luput dari kesalahan, yang mana kesalahan itu harus pula dibuktikan di pengadilan, entah pengadilan dunia ataupun pengadilan akhirat. Walau hal itu tetap tak bisa menafikan keberadaan jasa dan sumbangsihnya untuk bangsa kita.

Biarlah apa yang telah, sedang dan akan terjadi terhadap bangsa kita, menjadi suatu takdir sejarah dan keharusan sejarah. Naiknya Pak Harto di tahun 1965 adalah takdir sejarah yang menyelamatkan bangsa kita dari kehancuran, dan membuat kita mampu memulai suatu era baru. Turunnya Pak Harto di tahun 1998 adalah juga suatu takdir sejarah, yang memberikan kita era baru dan tenggelam dalam euforia demokrasi dan kebebasan. Itu karena memang sejarah menghendaki terjadinya demikian, sejarah memang menghendaki pergantian era, dari era stabilitas ke era kebebasan. Adakah kita akan menyia-nyiakan takdir sejarah beserta hikmahnya yang telah kita raup?

Sekali lagi, apa pun jadinya, jasa Pak Harto tak boleh kita lupakan. Kadang saya pun teringat di masa kecil dulu, saat semuanya serba aman dan bebas dan kita hanya terfokus kepada masalah sandang pangan dan papan. Sulit rasanya melupakan kenikmatan itu, termasuk sulit melupakan jasa orang yang mengusahakannya. Kalaupun beliau salah, biarkan Allah SWT yang akan menghakiminya di Pengadilan maha adil di alam akhirat sana. Dan tak seyogyanya apabila kita terus-menerus menghujat orang yang pernah memberikan jasanya kepada kita semua. Ataukah memang itu sudah sifat dasar kita, seperti terkiaskan dalam peribahasa “Panas Setahun Dihapus Hujan Sehari”? Semoga tidak demikian. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa para pahlawannya, terlepas dari kemungkinan masalah hukum yang menimpa sang hero.

Saatnya kita berkaca, dan saatnya kita bersatu lagi, di dalam keheningan dan keharuan atas wafatnya salah seorang pemimpin besar kita. Apa yang terjadi dalam sejarah kita biarlah menjadi takdir sejarah dan itu adalah atas kehendak-Nya. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya, dan biarkan Allah SWT yang akan menghakimi semuanya.

Wassalaam,

Papa Fariz aka Mas Boedoet